ARAH STRATEGIS RAKYAT ACEH DALAM PILPRES 8 JULI 2009 “Menentukan Masa Depan Aceh” June 28, 2009
Posted by znain in New's Report, Tak Berkategori.4 comments
Panel Forum: Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh-Jakarta
Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh-Jakarta bekerja sama dengan Pusat Penelitian Politik LIPI (P2P-LIPI) menyelenggarakan Panel Forum. Dengan tema Arah Strategis Rakyat Aceh Dalam Pilpres 8 Juli 2009, pada Kamis, tanggal 25 Juni 2009 di Gedung Seminar LIPI Jakarta. Acara Panel di mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. Yang dihadiri oleh 250an peserta dari berbagai elemen masyarakat Aceh, mahasiswa, organisasi/lembaga keacehan dan non Aceh. Acara panel tersebut di bagi dalam tiga sesi yaitu pembukaan/serimonial, panel forum sesi pertama dan sesi kedua serta penutup. Sesi pembukaan: dibuka oleh Bapak Sahyan Asmara Deputi Pemuda dan Olah Raga Kementerian Pemuda Dan Olah Raga. Sambutan juga diberikan oleh Bupati Aceh Utara Tgk. Ilyas A. Hamid yang mewakili bupati/walikota di Aceh. Dalam sambutannya Tgk. Ilyas menekankan pada aspek perdamaian dan harapan amannya Pilpres di Aceh dan seluruh Indonesia. Dari Impas Aceh-Jakarta sekaligus ketua panitia Kamaruddin Hasan dalam sambutannya menekankan bahwa Aceh telah mengalami banyak fase dan momentum harapan kemajuan Aceh ke depan. Momentum Sejarah Aceh, proses damai yang melelahkan, MoU Helsinki, Pilkada, Pemilu legeslatif dan momentum Pilpres.
Dalam sesi panel forum pertama menampilkan tim sukses JK-Win Indra J. Piliang dan dari SBY-Boediono, menampilkan Muslim yang dipandu oleh Kamaruddin Hasan sebagai moderator. Indra J.P, menguraikan keberhasilan JK dalam proses damai Aceh, bahwa persoalan Aceh menjadi perhatian yang sangat serius bagi JK. Dan JK lah yang mengurai benang kusut Aceh. Sedangkan SBY tidak begitu paham tentang Aceh. Aceh menjadi sangat penting bagi JK, walau secara kuantitas hanya 2jutaan pemilih namun secara kualitas Aceh menjadi wacana yang sangat menarik, dalam kampaye isu Aceh digunakan hamper 50 persen. Dan saling mengkalim keberhasilan. Muslim, membantah bahwa bukan hanya JK yang berjasa dalam penyelesaiaan Aceh, namun atas persetujuan dan perintah SBYlah konflik Aceh diselesaikan. Dalam sesi ini terjadi perdebatan yang demokratis, dengan banyaknya peserta yang ingin memberikan komentar dan pertanyaan, membuat kamaruddin Hasan kualahan mengatur waktu, sampai jam 13.30 baru bisa di hentikan. Dalam sesi ini, hal yang menarik dikomentari oleh sekjen IMPAS Aceh Jakarta Zulkarnaini Abdullah, bahwa Aceh sekarang tidak membutuhkan penguasa yang otoriter, dengan hegemoni, dan pola kerja yang top down, namun dibutuhkan pemimpin yang kreatif, inovatif dan yang penting dekat dengan kalangan pemuda sebagai agen perubahan Bangsa.