Strategi Aceh Dalam Memilih Capres-Cawapres 2009 (Menentukan Masa Depan Aceh) June 8, 2009
Posted by znain in New's Report.trackback
Dialog IMPAS (Ikatan Mahasiswa Pascasarjana IMPAS Aceh – Jakarta ) Pada hari senin 8 Juni 2009 di Jakarta dengan tema “Strategi Aceh dalam menentukan Capres-Cawapres 9 Juli 2009”. Dialog dipandu oleh Kamaruddin Hasan dan Zulkarnaini Abdullah.
Mencermati tiga kendidat pasangan Capres cawapres (SBY-Boediono, Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto) tentunya akan muncul pertanyaan khususnya bagi Aceh, mana yang paling baik untuk masa depan Aceh? Masing-masing pasangan mempunyai kelemahan namun juga telah memiliki sejumlah kelebihan. Dalam dialog tersebut mengemuka dua pasangan yaitu SBY-Boediono dan JK-Wiranto. SBYdan JK, lewat tangan merekalah sehingga mampu menghentikan konflik berkepanjangan di bumi tanah Iskandarmuda dengan adanya perjanjian MoU Helsinki 15 agustus 2005. Mereka sama-sama berjasa dalam proses damai Aceh. Hingga saat ini SBY dan JK masih diyakini bahwa meraka merupakan tokoh yang sangat dikagumi oleh Rakyat Aceh saat ini. Namun popularitas JK dibanding SBY di Aceh, JK masih kalah popular. Kamaruddin Hasan menyebutkan, SBY dan JK masih menjadi tokoh sentral oleh rakyat Aceh sebagai dewa penolong. Yang disayangkan bahwa peran JK yang begitu besar dalam proses damai Aceh hanya dipahami pada lapisan menengah keatas. Pada bagain pasangan Megawati-Prabowo boleh dikatakan sangat tipis peluangnya. Karena pada saat pemerintahan Megawati rakyat Aceh merasa trauma karena telah menerapkan darurat sipil. Disnilah pihak PA dan rakyat Aceh membenci kehadiran Megawati. Namun disisi lain Prabowo telah banyak dikenal oleh masyarakat Aceh. Hingga saat ini rakyat Aceh yang pro NKRI masih banyak menyimpan charisma.
Pada tataran praktis politisi sipil PA/KPA sebagai mesin politik yang kuat di Aceh saat ini, masih terjadi perbedaan dukungan tehadap capres dan cawapres. Satu sisi ada yang mendukung sosok SBY tapi sisi lain ada yang cenderung mendukung JK. Namun pihak PA-KPA pasti akan lebih cermat melihat pasangan mana yang akan lebih berpeluang untuk dapat dijadikan rekan kerja di Jakarta. Dalam hal ini PA di Aceh akan ada tarik menarik kepantingan dan memperhitungkan peluang. Dua kepentingan kontras tersebut akan menjadi dilema jika para politisi PA-KPA di Aceh tidak cermat dalam mengambil langkah demi langkah menganalisis peluang para capres-cawapres yang akan terpilih. Arief Jamaluddin, A. Murtala dan T. Salsabil Ali dalam forum diskusi tersebut menyatakan bahwa mesin Politik PA masih sangat efektif mempengaruhi suara Rakyat Aceh. Kemana arah angin PA-KPA kesitu pula arah rakyat Aceh. Kamaruddin menggaris bawahi bahwa analisis strategis peluang Capres-cawapres kalangan PA-KPA mutlat diperlukan demi kepantingan masa depan Aceh. Kekuatan PA terbukti kuat di Aceh, jadi jangan salah membawa rakyat Aceh, rakyat mesti cerdas dalam menentukan pilihan. Politik memang susah diprediksi, terutama di Aceh. Hasil prediksi diatas kertas selalu meleset dari perhitungan sebenarnya. Contohnya ketika Pilkada 2006 di Aceh Irwandi-Nazar memenangkan pemilihan. Akankah terulang lagi sejumlah kejutan pada Pilpres 9 juli 2009. Namun siapapun yang akan terpilih jadi Presiden dan wakil presiden pada periode 2009 hingga 2014 nanti, diharapkan dapat membawa Aceh lebih maju dan bermartabat.
Comments»
No comments yet — be the first.