Untaian Kalam Ilahi….. . . December 4, 2008
Posted by znain in Artikel.trackback
Oleh : Merwan Yusuf “art curator”,,,,
Di tulis pada Pameran Tunggal lukisan Kaligrafi dengan tema “Berbicara melalui Karya”, pada kamis, 04-16 Desember 2008, di Galeri Nasional Indonesia – Jakarta,
Sudah sejak awal memang lukisan atau drawing yang menggambarkan tentang tanda tanda dalam bentuk yang mempunyai arti tersendiri dan mewakili suatu ide dan ungkapan, adalah temuan pertama manusia untuk mewujudkan kemampuan mencipta yang ditujukan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama.
Gambar juga dapat dikaitkan dengan struktur kepercayaan yang mulai berkembang pada manusia purba. Disamping itu gambar diyakini berperan sebagai suatu kekuatan yang tidak terlihat. Bentuk komunikasi yang awal terlihat pada peninggalan lukisan di dinding dinding gua, banyak menggunakan elemen garis, titik, dan sapuan warna sederhana seperti ocher, hitam, putih, merah.
Perkembangan lukisan ini terus berlanjut sampai kepada bentuk yang melekat langsung pada tubuh atau rajah, sekarang dikenal sebagai tato. Bentuk elemen rajah ini pada suku suku tertentu lebih bersifat mengisi ruang dengan penggambaran elemen dekoratif seperti garis, titik, lingkaran, dll.
Periode berikutnya manusia menemukan yang paling dahsyat dalam sejarah peradaban adalah menciptakan suatu sistem tanda yang disepakati bersama untuk saling memudahkan berkomunikasi dengan melibatkan unsur “bentuk (visual)”, “suara (audio)”, & “isyarat (gesture)”.
Perkembangannya kemudian yang paling mutakhir adalah lahirnya suatu sistem bahasa dan tulisan yang berkembang saling berbeda pada tiap daerah dan kebudayaan yang merupakan ekspresi dari suatu peradaban yang melibatkan etnis dan budaya tertentu, yang kemudian mengubah jalannya sejarah peradaban menuju masa yang lebih dinamis dan revolusioner. Akibat dari makin berkembangnya sistem bahasa dan tulisan tersebut maka perlahan lahan terjadi runtuhnya sekat sekat pemisah yang makin memudahkan manusia untuk saling berkomunikasi di segenap penjuru dunia.
Bentuk lain dari kemampuan untuk mewujudkan ide ide dan pemikiran dapat dituangkan melalui bahasa dan tulisan, maka berkembanglah ke bidang bidang lain yang lebih luas dan kaya seperti pencatatan sejarah, perkembangan peradaban dan kebudayaan, keilmuan pertanian, kesehatan, dan juga sistem kepercayaan yang berkembang menjadi sistem keagamaan. Kembali pada pemahaman antara simbolisasi lukisan dan tulisan terjalin hubungan yang sangat dekat seperti kakak beradik, hal ini untuk menyatakan betapa dekatnya antara ekspresi satu dan lainnya yang saling mendukung.
SENIMAN
Setelah menyelesaikan pendidikan formal di Aceh, Said Akram melanjutkan pendidikan tinggi di ISI Yogyakarta. Di kota ini ia mulai banyak belajar dan mengenal kehidupan dengan sesama mahasiswa guru dan rekan rekan seniman dari berbagai tempat di Indonesia yang banyak berdomisili di kota pelajar itu.
Pergaulan dan interaksi dengan berbagai kalangan yang beraneka ragam latar belakang tentunya telah memperkaya cara pandang dan memperluas horison Said Akram dalam memahami dan turut membentuk seni lukisnya dikemudian hari.
Pilihannya ternyata berujung pada kemampuan yang sudah dia kuasai sebelumnya yaitu penulisan dengan menggunakan aksara arab. Sejak semula memang menurut rekan sesama mahasiswa seangkatannya dan staf pengajar di ISI pada waktu itu, ia sudah tertarik dengan lukisan kaligrafi.
Hal tersebut tentunya tidak aneh dan sangat beralasan mengingat dari ayahnyalah ia mendapat pendidikan yang sangat lengkap dan luas mengenai pengetahuan agama Islam, khususnya mengenai bidang penulisan kaligrafi.
Ayah beliau dikenal luas sebagai seorang sebagai seorang yang paham sejarah Islam dan sekaligus sebagai seorang “Pentasih” nasional yaitu suatu keahlian yang dapat membaca dengan benar dan mengkoreksi tulisan tulisan arab sehingga dengan demikian memperkecil ruang kesalahan tanda baca yang dapat berakibat pada kesalahan arti. Beliau sering dimintakan jasanya pada acara acara besar perhelatan yang bernuansa Islami seperti di Festival Istiqlal, MTQ dll.
Pameran Kaligrafi Tunggal Said Akram yang sekarang berlangsung di Galeri Nasional ini, merupakan sebuah terobosan yang sangat membantu dalam membangun keaneka ragaman ekspresi dan dinamika berkesenian untuk lebih mewarnai kemajemukan kegiatan seni lukis dewasa ini yang lebih banyak didominasi oleh pameran pameran lukisan figuratif yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri, umumnya berasal dari perupa China yang silih berganti dilangsungkan di Galeri Nasional ini.
Kehadiran Pameran Tunggal pelukis kaligrafi Said Akram di Galeri Nasional ini adalah merupakan sebuah keberhasilan yang sangat luar biasa menilik pameran tunggal dari kalangan pelukis kaligrafi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pelukis A.D Pirous saja yang melakukan hajatan besarnya dalam sebuah pameran akbar yang berdimensi retrospektif beberapa tahun lalu.
Sebelumnya kita hanya dapat menyaksikan lukisan kaligrafi di pajang di Galeri Nasional dalam sebuah acara pameran bersama, sebagai salah satu karya peserta yang berbaur dengan bentuk dan citra lukisan figuratif, abstrak, dekoratif dll. Kali ini adalah pameran tunggal kaligrafi yang pertama secara menyeluruh memamerkan karya karya pribadi dari seorang pelukis kaligrafi generasi kedua setelah Sadali, Pirous dan Amang Rahman.
Pameran ini telah dipersiapkan oleh Said Akram dalam kurun waktu yang cukup lama, dengan jumlah karya yang berkualitas dan cukup memadai untuk diseleksi hingga bisa mengisi luasnya ruang ruang pamer di Galnas.
Masih bertahannya lukisan kaligrafi di kancah nasional merupakan sesuatu yang layak di acungkan jempol mengingat demikian derasnya karya seni lukis akhir akhir ini yang cenderung berorientasi ke lukisan lukisan figuratif, dan kalaupun beraksara lebih banyak memakai huruf latin. Keadaan ini memang tak bisa disangkal lagi karena pasar juga melahap karya karya yang sifatnya umum yaitu figuratif bahkan imitatif dan sebagian mengarah kewilayah lukisan Grafiti.
Hal ini disebabkan oleh kemudahan lalu lintas informasi mengenai pencitraan bentuk dan penyebaran wacana yang diterima oleh seniman indonesia yang juga menginginkan berada dijalur yang sama dengan kegiatan seni yang berada di Eropa dan Amerika. China yang telah membuka dirinya secara luas dalam bidang senirupa juga menyerap gaya senilukis yang berasal dari Eropa dan Amerika tetapi tidak lupa menyertakan gaya klasik China baik yang masih tradisionil maupun yang sudah mendapat pengaruh komunis dan sosialis lainnya.
Pelukis pelukis dari cina ini menyerbu seperti serangan fajar keberbagai penjuru dunia untuk memperkenalkan lukisan lukisan mereka yang didukung oleh kemampuan teknis, finansial dan media informasi yg luar biasa baik dari sponsor galeri maupun negara yang kemakmurannya makin membaik.
KARYA
Said Akram adalah salah satu dari perupa kaligrafi nasional yang tetap bertahan dan konsisten ditengah tengah serbuan badai senilukis kontemporer seperti sudah diutarakan diatas tadi. Ia memilih bekarya ditempat asalnya di kota Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussallam. Ditempat inilah ia bekerja yang didukung dengan suasana yang lebih kondusif baik dari keluarga dan lingkungan untuk bisa lebih fokus dan berkontemplasi mewujudkan ide dan gagasan yang nantinya akan direalisir menjadi karya visual. Sudah sejak lulus dari ISI Yogyakarta dan berkiprah sebagai professional artist ia sangat dikenal dengan style lukisan lukisan kaligrafi yang menonjolkan dan mengambil efek lelehan air atau akar yang membulat dan mengalir, ia berhasil keluar dari kepungan pakem pakem penulisan kaligrafi baku yang pernah ada sebelumnya. Bentuk olahan kaligrafi yang seperti itu kemudian memunculkan ciri khas kaligrafi yang memaksimalkan terbentuknya volume dan efek grafitasi.
Elemen yang saling merajut dan mengikat serta penerapan layer dan lapisan atas-bawah membentuk volume antar elemen elemen tulisan. Efek grafitasi dapat dilihat pada terbangunnya kesan kaligrafi yang turun dari atas / langit (Esa) dan penggunaan bayangan yang senantiasa hadir disetiap samping alur kaligrafi yang dibentuk dan mengalir tidak terputus ditujukan untuk memaksimalkan kesan tiga dimensional.
Di beberapa karyanya komposisi yang mengarah pada keseimbangan visual sangat terasa, boleh jadi keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan sisi spiritual yang mengingatkan manusia untuk menyikapi hidup selaras dengan alam dan sang pencipta.
Ia juga mengartikulasikan penggambaran cahaya (Nur) didalam lukisannya yang menyiratkan suatu cahaya Ilahi yang hadir datang dalam lukisannya. Selain ungkapan keindahan kaligrafi yang kasat mata tetapi juga mempunyai kandungan energi yang kuat sebagai penuntun dan sering diartikan sebagai firman Allah yang mempunyai kemampuan untuk mendatangkan keberuntungan dan penyembuhan kepada manusia, selain itu dipercaya sebagai penolak bala bagi orang orang yang bermaksud jahat, apabila memajang ayat ayat tersebut dirumahnya.
Dalam hal pemilihan warna ia sangat berani, Said tidak segan menggunakan warna warna kuat yang segar untuk mengangkat tulisan kaligrafinya hingga menjadi lebih atraktif. Bila menyaksikan lukisan lukisan lain yang dikerjakan Said, kita diundang untuk masuk membangun ruang ruang imajiner atau membawa kita kedalam suasana yang sangat kontemplatif dan asosiatif kepada dunia yang spiritual dan ekspresif penuh tenaga dan bergerak bergemuruh secara eksplosif.
Mungkin hal tersebut dapat mengingatkan kita tentang dahsyatnya gelombang Tsunami yang pernah menghantam daerah pesisir Aceh beberapa tahun yang lalu. Sebuah ajakan introspektif untuk masing masing pribadi dan sekaligus sebagai sebuah pesan yang ingin disampaikan Said Akram kepada kita semua betapa rapuhnya hidup ini.
PENUTUP
Tak pelak lagi karya karya yang di hadirkan Said Akram diruang pameran tunggalnya di Galeri Nasional mengandung pesan pesan moral dan spiritual melalui ekspresi keindahan huruf dari ayat ayat Al Quran dan penggambaran bentuk alam yang tercabik cabik. Ia juga mengajak kita untuk menikmati dan mengapresiasi dunia huruf arab dan kaligrafi baru yang menjadi style pribadinya. Said adalah salah seorang kontributor pengayaan corak kaligrafi yang sangat personal serta telah memperkaya khasanah seni lukis kaligrafi Nasional maupun Internasional.
Keteguhannya untuk terus setia berkiprah pada seni kaligrafi patut di acungkan jempol walaupun sangat jarang kita saksikan karya karya semacam ini dapat beredar dibalai balai lelang ternama, namun hal tersebut tidak menyurutkan hatinya untuk terus bekarya dijalur yang sudah dipilihnya ini. Keteguhan hati dan sikap mental yang diperlihatkan Said Akram yang tidak gampang menyerah bisa kita ambil sebagai sebuah pelajaran bermanfaat dalam pembentukan karakter diri dalam menjalankan profesi sehari hari.
Comments»
No comments yet — be the first.