Kegelisahan Industri Kerajinan Aceh Dalam Persaingan Pasar June 16, 2008
Posted by znain in Opini.trackback
Paska Tsunami telah membawa berkah baru bagi masyarakat Aceh, akan tetapi hanya bagi mereka yang memiliki skill dan kemampuan SDM saja dan tentunya bagi orang-orang yang produktif, kreatif dan inovatif, namun setelah air laut itu sur
ut negeri inipun kembali tenang kemudian menjadi nyaman dari sekian lama dalam perseteruan perang senjata, dan ternyata banyak teman-teman baru yang berdatangan juga teman lama kembali pulang. Sebuah asumsi apakah itu benar atau salah dimana ada persoalan /masalah dan disitulah ada peluang bisnis yang bisa digarap/kerjakan, itulah sebabnya mereka yang produkti dan kreatif tidak akan pernah lari dari persoalan dan permasalahan. Aceh telah melewati masa-masa yg sangat sulit yaitu masalah konflik dan tsunami telah berlalu. mari terus kita jaga dan mamfaatkan damai untuk teruskan pembangunan di Negeri ini dengan sebaik-baiknya.
Aceh harus melaju kencang walaupun baru bangun masih kesakitan, dan kemudian apakah biarkan kita menjadi ketergantungan dengan mereka para pendatang
yang selama ini telah berbaik hati dalam berkonstribusi mewujutkan pembangunan kembali Aceh paska tsunami, selanjutnya kalau kita tidak produktif dan kreatif mau kemana kita pasca program mereka selesai nanti. Tapi kemudian tidakkah kita sadari bahwasanya Aceh secara keseluruhan membutuhkan banyak sekali hasil-hasil kerajainan missal seperti perabotan rumah tangga, sampai ke kariya yang dapat menjadi hiasan baik dalam ruangan rumah, perkantoran, caffe-caffe dan sebagainya, belum lagi akan meningkatkan komoditi ekport dimana hasil karya dari produk local yang muncul di pasaran, tidak lain kita hanya melihat banyak sekali produk-produk luar atau produk-produk nasional lainnya yang lebih mendominasi pasar, padahal saat ini Aceh punya peluang pasar yang sangat strategis kemudian untuk meningkatakan kualiatas dan kuantitas produk dan produksi untuk memamfaatkan peluang tersebut.
Tidak dipungkiri memang selama ini kendala para perajin kita adalah minimnya modal kerja. Hal ini berakibat pada permasalahan yang terkait antara satu dengan yang lainnya. Dengan tidak adanya cukup modal, perajin tidak dapat memperbesar skala usahanya. Akibat produksi yang terbatas, maka akan memperkecil nilai usaha. Akhirnya akan mengurangi kemampuan kreativitas dan inovasi. Karena hasil penciptaan sebuah kreativitas memerlukan usaha dan biaya yang sangat besar. Punca semua ini adalah ketidakmampuan bersaing di pasar Nasional apalagi di pasar internasional, dipasar local pun jarang sekali terlihat produk local.
Apakah kita tidak menganggap pentingnya promosi dan pemasaran karya-karya kriya yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi sehingga akan menjadi “produk unggulan”. Kenapa tidak kita berupaya membuka jendela komunikasi untuk memfasilitasi usaha penyebaran informasi, inovasi, promosi, improvisasi diseputar ranah kriya Aceh. Kita mulai dengan sebuah kekompakan baru dalam satu wadah bersama, tentu saja dengan tidak mengabaikan perkembangan kriya dari luar yang dapat menjadi mitra atau malah menjadi pesaing kriya Aceh di kancah ekonomi Nasional dan ekonomi global. Tentu saja melalui jendela komunikasi para perajin dapat melakukan promosi produknya, cerita-cerita tentang hasil kerajinan pemula, berita pameran sampai info produk Nasional dan mancanegara. Dan satu hal yang terpenting kita harus punya posisi tawar dengan pihak manapun terhadap karya kita.
Pengembangan kerajinan perlu lebih diperhatikan karena mengemban misi menciptakan pemerataan kesempatan kerja dan berusaha, melestarikan seni budava. modernisasi masyarakat. memperkuat infrastruktur industri dan meningkatkan ekspor nasional. Pembinaan dan pengembangan kerajinan diharapkan mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dengan harapan dapat herkembang kearah yang lebih maju dan mandiri. Realitas menunjukkan bahwa kerajinan berpotensial untuk tumbuh dan berkembang serta mampu bertahan terhadap perekonomian yang kurang menguntungkan. Kerajinan juga mempunyai daya rieksibilitas dan adaptabilitas didalam memperoleh sumber bahan baku dan peralatan.
Oleh karena itu pembinaan dan pengembangan kerajinan di Aceh perlu dibuat suatu perencanaan komprehenship dengan berbasis potensi daerah. Pengusaha kecil berprofesi perajin harus dijalin secara global, multi fungsi dan dikoordinir secara komprehenship-berkesinambungan. Upaya kegiatan terpadu tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi perajin dalam upaya mengembangkan minat usaha. Untuk memfasilitasi mereka dalam membuka jalur peningkatan kualitas dan kuantitas produksinya. sebuah wadah himpunan pembinaan dan peningkatan prestasi sekaligus sebagai forum silaturrahim bagi para perajin se Aceh, diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam melaksanakan dan mendorong tumbuh kembangnya peran serta masyarakat dalam mewujudkan Aceh Sebagai Kota yang kaya dengan hasil kerajinan yang bernilai seni tinggi.
Secara umum permasalahan yang dialami oleh industri kecil terutama berkaitan dengan
proses pemasaran yang relatif lemah karena belum tertatanya kemampuan manajerial dalam menggelola perusahaan, belum dikuasainya pengetahuan di bidang perdagangan, terbatasnya dana untuk anggaran promosi dan kurangnya permodalan untuk meningkatkan dan memperbaharui kualitas produksi. Sehingga pemasaran masih sangat terbatas di pasaran local atau nasional dan belum mampu menembus pasaran luar negeri. Tidak dapat dipungkiri bila ingin meraup pasar internasional diperlukan sarana promosi yang handal, mungkin internet saat ini menjadi alternative pilihan sebagai sarana promosi yang termurah karena dengan biaya minim bisa dinikmati oleh calon pelangan di belahan dunia manapun.
Penulis adalah Alumni SMIK N B. Aceh Sedang mengikuti Program Magister Manajemen Transportasi (STMT) di Jakarta dan Aktivis LSM Peace Generation of Acehness (PeGAH)”
Tulisan ini telah di muat pada kolom opini di Koran Harian Aceh Independen AI
http://www.aceh-independen.com



Comments»
No comments yet — be the first.